HATI-HATI DENGAN APA YANG KAU PIKIRKAN!

•Maret 5, 2009 • 1 Komentar

HATI-HATI DENGAN APA YANG KAU PIKIRKANAN!

Sejauh mana kamu sudah mengendalikan pikiranmu? Yuk kita lihat …

1. Saya selalu berpikir positif hampir di setiap waktu.
2. Terkadang saya Terkadang saya bertanya apakah saya berbakat seperti orang lain.
3. Seringkali emosi saya mudah berubah dan saya mudah tersinggung.
4. Saya dapat mencapai hal-hal yang saya pikir mampu saya lakukan.
5. Saya merasa keadaan tidak menjadi lebih baik walaupun saya sudah berusaha.
6. Saya mementingkan pendapat keluarga dan teman sebelum mengambil keputusan.
7. Rasanya saya jarang bergosip dan mencari kesalahan orang lain.
8. Walaupun keadaan tidak menguntungkan bagi saya, saya tetap diam dan menerima saja keadaan
tersebut.
9. Seringkali saya mengeluh dan menyesali hal-hal yang saya jalani.
10. Saya percaya diri akan mempu mencapai tujuan yang saya jalani.
11. Relajar dari pengalaman merupakan hal yang saya lakukan.
12. Saya pikir saya tidak memiliki kemampuan untuk mencapai mimpi saya.
13. Saya selalu apa adanya sehingga memiliki hubungan yang menyenangkan dengan teman/ orang lain.
14. Saya selalu dapat menikmati apa yang saya lakukan.
15. Seringkali saya gagal dalam tugas/ pekerjaan yang saya lakukan.

Skor :
No. Benar Salah
1. Benar 2 Salah 1
2. Benar 1 Salah 2
3. Benar 1 Salah 2
4. Benar 2 Salah 1
5. Benar 1 Salah 2
6. Benar 1 Salah 2
7. Benar 2 Salah 1
8. Benar 1 Salah 2
9. Benar 1 Salah 2
10. Benar 2 Salah 1
11. Benar 2 Salah 1
12. Benar 1 Salah 2
13. Benar 2 Salah 1
14. Benar 2 Salah 1
15. Benar 1 Salah 2
Total … …

Interpretasi :
Skor : 26-30: Selamat! Kamu mampu engendalikan pikiranmu untuk selalu berpikir positif. Hal ini membuatmu selalu menikmati apa yang kau lakukan, sehingga hasil yang kamu dapatkan juga memuaskan.
Skor : 20-25 : Kamu tampak sudah cukup mencoba berpikir positif dalam keseharianmu, namun terkadang kamu tetap cemas dan saat itulah pikiran-pikiran negatif kembali berputar di kepalamu. Jangan khawatir, selama kamu tetap mencoba, berpikir positif akan terbangun dalam dirimu.
Skor di bawah 19: Wah, tampaknya, kamu harus membuang jauh-jauh cara berpikirmu selama ini karena pikiranmu didominasi dengan hal-hal negatif, seperti rasa takut gagal, cemas dan sebagainya. Cobalah untuk tidak terpaku pada apa yang tidak mampu kamu lakukan, tapi fokuskan pikiranmu pada apa mampu kamu lakukan, prestasi yang telah kamu capai dan syukuri apa yang kamu miliki.

You are what you think! Dan Allah Selalu mengikuti prasangka hambanya.

•September 16, 2015 • Tinggalkan sebuah Komentar

UJIAN SEKOLAH Pend. Agama Islam.2014

•Februari 20, 2014 • Tinggalkan sebuah Komentar

unduh

Mengenang Dai Sejuta Umat

•Juli 9, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Pernah KH Zainuddin MZ mengaku pena saran mengapa partai Islam tak pernah memenangkan pemilu. Kegusaran itu diungkapkan dai sejuta umat tersebut untuk menjelaskan alasannya kembali ke dunia politik pada era reformasi ketika diwawancarai sebuah koran nasional.

Zainuddin kembali ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP), partai yang pernah dimasukinya jauh sebelum reformasi. “Almarhum memang pernah berpolitik,“ ujar anak kedua sang dai, Luthfi Manfaluti, Kamis (7/7).

Photobucket

Dai yang semasa kecil bercita-cita menjadi dokter atau pilot ini memang tak asing pada dunia politik. Keterlibatan Zainuddin bermula pada 1977. Menjelang digelarnya pemilu pada tahun itu, ia memutuskan untuk menerima tawaran menjadi juru kampanye di PPP.

http://republika.pressmart.com/PUBLICATIONS/RP/RP/2011/07/09/ArticleHtmls/trending-news-Heran-Partai-Islam-tak-Pernah-Menang-09072011001033.shtml?Mode=1

Tak sulit menebak alasan kiai untuk memilih partai berlambang Ka’bah ini. Secara kultural, ia merupakan seorang Nahdliyin atau bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU). Dia pun murid dari KH Idham Chalid, mantan ketua umum Pengurus Besar NU yang juga deklarator PPP.

NU merupakan bagian dari beberapa partai yang ber fusi ke dalam PPP . Zainuddin berduet dengan Rhoma Irama di panggung kampanye. Popularitas kedua tokoh itu ternyata manjur mendatangkan massa di setiap kampanye.

Duo Zainuddin-Rhoma pun kemudian menjadi sorotan pemerintahan Orde Baru yang cemas akan karisma keduanya. Hingga, Zainuddin mengungkapkan kerap Duo Zainuddin-Rhoma pun kemudian menjadi sorotan pemerintahan Orde Baru yang cemas akan kharisma keduanya. Hingga, Zainuddin mengungkapkan kerap mendapatkan teror dari penguasa Orde Baru yang khawatir hegemoni Golongan Karya akan terganggu.

“Golkar sedang ganasganasnya,“ ujar Zainuddin ketika itu. Hanya bertahan sekitar lima tahun, dia pun lantas memutuskan untuk mengakhiri kiprahnya sebagai juru kampanye.

Luthfi menjelaskan, ayahnya mau terjun ke panggung politik bukan karena untuk uang atau tukar-menukar kepentingan duniawi. Ayahnya terjun ke politik karena tidak ingin hanya pintar beretorika, tetapi juga bisa bertindak.
Kiai tidak ingin hanya bisa mengatakan korupsi adalah musuh bangsa, tapi juga bisa menindak koruptor.

Almarhum ingin terjun langsung membangun dan memperbaiki sistem kenegaraan. Menjadi singa podium sudah dialaminya, tetapi singa politik belum tercapai. Bukan tanpa rencana Zainuddin berpolitik. Dia menggunakan belasan koordinator daerah yang selama ini mengatur jadwal dakwahnya untuk mengembangkan sayap politik.

Para penggemarnya diharapkan menjadi basis massa.
“Kemampuan Zainuddin menyentuh masyarakat melebihi presiden manapun,“ ujar Luthfi.

Sayang, Zainuddin selalu menganggap seseorang itu apa adanya tanpa kemampuan membaca manuver yang akan dilakukan selanjutnya. Dunia politik dipan dangnya putih, bukan abuabu. Dia tidak menyadari teman abadi politik adalah kepentingan, bukan manusia. “Almarhum polos saja memandang orang,“ kata Luthfi.

Seusai keluar untuk kali kedua dari PPP, Zainuddin mendirikan Partai Bintang Reformasi (PBR) pada 2003.
Namun, langkah politiknya ini tak berhasil. Sempat merasakan menjadi ketua umum di partai tersebut, ia akhirnya mengundurkan diri. Bahkan berakhir tragis, karena partainya itu kemudian terpecah karena konflik.

Dia pun dipecat dari kepengurusan partai. Keluarga sebenarnya geram melihat ulah politikus yang kerap menipu Zainuddin. Sementara itu, ia tetap kalem menghadapi intrik politik itu. “Lawan saja ayah, jangan diam seperti itu,“ tutur Luthfi kepada ayahnya kala itu.

Menurut Luthfi, ayahnya kerap bermusyawarah dengan keluarga sebelum berkecimpung di politik. Lutfhi masih mengingat, Zainuddin pun meminta saran dari istri dan seluruh anaknya ketika hendak kembali bergabung dengan PPP. Mereka duduk membentuk lingkaran di ruang keluarga di rumah ayahnya di Jalan Haji Aom, Gandaria, Jakarta Selatan.

“Bagaimana menurut kalian jika ayah kembali berpolitik,“ jelas Zainuddin seperti dituturkan Luthfi. “Apa yang terbaik untuk ayah, pasti kami tidak keberatan,“ jawab Luthfi. Namun, Luthfi menilai ayahnya lebih baik berdakwah daripada berpolitik. Rekan Zainuddin semasa di PPP, Ahmad Yani, mengingat, Zainuddin merupakan sosok yang bersikap tegas.

Ayoo..Kawaan…

•Juni 27, 2011 • Tinggalkan sebuah Komentar

Assalamualaiku… Wr.Wb..

Photobucket

Dengan mengharap Rahmat & Ridho Allah SWT, kami bermaksud menyelenggarakan Silaturahmi, yang Insya Allah akan diselenggarakan pada :

Hari : Sabtu, 2 Juli 2011
Pukul : 18.30 – Selesai
Tempat : Lapangan Futsal Jl. H. Nawi Blok A

Teman-teman/Saudara/i bisa mengunjungihttps://kavrella.wordpress.com/?p=122&preview=true untuk info lebih lanjut.

Atas kehadiran , kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

call : 02198702495 –>Ponk
02168849985 –>Oi Bodax
02198952153 –>Abduh

Ambidexterity, Bakat Langka Yang Dimiliki Manusia | Apa Kabar Dunia

•September 19, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ambidexterity, Bakat Langka Yang Dimiliki Manusia | Apa Kabar Dunia.

Ambidexterity adalah keadaan dimana seseorang yang mahir menggunakan kedua tangan dalam kegiatan orang tersebut (contohnya menulis). Ini adalah bakat manusia dimana manusia tersebut mampu melakukan perubahan dominasi pergerakan pada salah satu sisi .

Orang-orang yang terlahir dengan bakat tersebut biasanya disebut Penwald ambidextrous. Dan mereka juga bisa berhenti menggunakan kedua tangan mereka dan hanya menggunakan satu tangan saja.

ambidexterity-bakat-langka-yang-dimiliki-manusia

Meskipun Ambidexterity itu sangat jarang, tapi orang yang memiliki bakat ini masih memungkinkan untuk melakukan beberapa tugas dengan tangan tertentu. Tingkat fleksibilitas dengan masing-masing tangan umumnya faktor kualitatif dalam menentukan seseorang yang Ambidexterity.

Di zaman yang modern ini, lebih mudah untuk menemukan orang yang mengalami ambidexterity yang dulunya kidal, dan yang berlatih agar bisa menjadi ambidextrous baik secara berlatih mandiri maupun diajarkan pada institusi pendidikan yang menekankan untuk menggunakan tangan kanan.

Dan juga karena banyaknya alat yang bentuknya asimetris (contoh pembuka kaleng, gunting, gitar dll) dan di disain untuk orang yang menggunakan tangan kanan. Hal ini menyebabkan banyak orang kidal yang belajar untuk menggunakan alat tersebut dengan tangan kanan karena sedikitnya alat yang di disain khusus untuk orang kidal. Dan hal ini menyebabkan orang kidal dapat menggunakan tangan kanannya secara bersamaan dengan tangan kiri.

Ambidexterity sering didorong dalam kegiatan-kegiatan yang memerlukan banyak keterampilan di kedua tangan, seperti juggling, berenang, perkusi, keyboard musik, mengetik, bisbol, lacrosse, pembedahan, tinju, bola basket dan pertempuran.

Keuntungan Ambidexterity
Dalam sepak bola, mampu menendang dengan kedua kaki memberikan lebih banyak pilihan untuk melewati dan mencetak gol, serta kemampuan untuk bermain di kedua sayap.

Oleh karena itu, pemain dengan kemampuan untuk menggunakan kaki lemah mereka dengan tendangan yang akurat ialah sangat berharga dalam tim mana pun.

Dalam balap mobil sport profesional, pembalap yang berpartisipasi dalam berbagai perlombaan di Amerika Serikat dan Eropa kadang-kadang menemukan kemudi yang dipasang pada sisi yang berbeda dari mobil. Sementara posisi kemudi sebagian besar tidak terpengaruh, tangan yang digunakan untuk memindahkan gigi transmisi mengalami perubahan.

Kenyataan ini lebih rumit bahwa pergeseran pola transmisi relatif terhadap perubahan, misalnya perubahan roda gigi yang memerlukan tangan kiri dalam memindahkan tuas ke arah pembalap menjadi gerakan menjauh dari pembalap yang menggunakan tangan kanan memindahkan tuas transmisi.

Seorang pembalap yang terampil dalam menggeser tuas transmisi dengan kedua tangan dapat membawa keuntungan.

Sumber :
jelajahunik.blogspot.com

.::Puisi Untukmu Ibu

•Juli 9, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Puisi Untukmu Ibu
Di kala resah ini kian mendesah dan menggalaukan jiwaku
Kau ada di sana …
Di saat aku terluka
hingga akhirnya…tercabik-cabiklah keteguhan hatiku
Kau masih ada di sana…

Ketika aku lelah dan semangatku patah untuk meneruskan perjuangan,
terhenti oleh kerikil –kerikil yang kurasa terlampau tajam
hingga akhirnya aku pun memilih jeda!!!
Kau tetap ada di sana…
memberiku isyarat untuk tetap bertahan

Ibu…kau basuh kesedihanku, kehampaanku dan ketidakberdayaanku
“Tiada lain kita hanya insan Sang Kuasa,
Memiliki tugas di bumi tuk menegakkan kalimatNya
Kita adalah jasad, jiwa, dan ruh yang terpadu
Untuk memberi arti bagi diri dan yang lain”
Kata-katamu laksana embun di padang gersang nuraniku
memberiku setitik cahaya dalam kekalutan berfikirku
Kau labuhkan hatimu untukku, dengan tulus tak berpamrih

Kusandarkan diriku di bahumu
Terasa…kelembutanmu menembus dinding-dinding kalbuku
Menghancurleburkan segala keangkuhan diri
Meluluhkan semua kelelahan dan beban dunia
Dan membiarkannya tenang terhanyut bersama kedalaman hatimu

Kutatap perlahan…
matamu yang membiaskan ketegaran dan perlindungan
Kristal-kristal lembut yang sedang bermain di bola matamu,
jatuh…setetes demi setetes
Kau biarkan ia menari di atas kain kerudungmu
Laksana oase di terik panasnya gurun sahara

Ibu…
Nasihatmu memberi kekuatan untukku
rangkulanmu menjadi penyangga kerapuhanku
untuk ,menapaki hari-hari penuh liku
…semoga semua itu tak akan pernah layu!

Ibu…
Dalam kelembutan cintamu, kulihat kekuatan
dalam tangis air matamu, kulihat semangat menggelora
dalam dirimu, terkumpul seluruh daya dunia!

Oleh: -Habib Berkelana-
“Kata-Kata Indah Para Pujangga”

Inklusi, Solusi Atau Masalah

•Juni 16, 2010 • 1 Komentar

Inklusi, Solusi Atau Masalah

Pendidikan untuk anak yang berkebutuhan khusus telah dicantumkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam kebijakan tersebut memberi warna baru bagi anak-anak yang berkebutuhan khusus.

Ditegaskan dalam pasal 15 tentang pendidikan khusus disebutkan bahwa pendidikan khusus merupakan pendidikan untuk peserta didik yang berkelainan atau peserta didik yang memiliki kecerdasan luar biasa yang diselenggarakan secara inklusif atau berupa satuan pendidikan khusus pada tingkat pendidikan dasar dan menengah.

Pasal inilah yang memungkinkan terobosan bentuk pelayanan pendidikan bagi anak berkelainan berupa penyelenggaraan pendidikan inklusif. Secara lebih operasional, hal ini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor Tahun tentang Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus.

Melalui pendidikan inklusi ini diharapkan anak berkelainan atau berkebutuhan khusus dapat dididik bersama-sama dengan anak normal lainnya. Tujuannya adalah tidak ada kesenjangan di antara anak berkebutuhan khusus dengan anak normal lainnya. Diharapkan pula anak dengan kebutuan khusus dapat memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya.

Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkebutuhan khusus yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas. Oleh karena itu anak yang berkebutuhan khusus perlu diberkan kesempatan yang sama dengan anak normal lainnya untuk mendapatkan pelayanan pendidikan di jenjang pendidikan yang ada.

Namun untuk masa sekarang, jenjang pendidikan yang disiapkan untuk menerapkan kebijakan sekolah inklusi ini adalah pendidikan sekolah dasar (SD). Dan pendidikan inklusi pada jenjang sekolah dasar diharapkan mampu untuk memecahkan salah satu persoalan dalam penanganan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus atau anak berkelainan.

Jadi dapat dikatakan bahwa pendidikan inklusi merupakan solusi pemberian pelayanan pendidikan yang diberikan kepada seluruh anak-anak. Perlu adanya partisipasi masyarakat dan kerjasama yang sinkron antara orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat.
Sekolah Inklusi, Alternatif Lain SLB

“Mereka yang terkucil dari pendidikan sering kali tidak terlihat; jika terlihat, mereka tidak diperhitungkan, jika diperhitungkan, mereka tidaklah dilayani. Pendidikan Inklusif sebenarnya berarti membuat yang tidak tampak menjadi tampak dan memastikan semua siswa mendapatkan hak memperoleh pendidikan dengan kualitas yang baik”

Demikian diungkapkan Direktur UNESCO’s PROAP, Bangkok Sheldon Shaeffer. Dia mencoba meningkatkan dan memperluas jaringan pemberdayaan pendidikan terutama mengarah pada penyetaraan di bidang pendidikan yaitu ”Konsep Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau Education For All (EFA)”.

Sangatlah penting untuk disadari bahwa keragaman di antara manusia adalah normal dan demikian juga berbagai kategori orang dalam kecacatan berbeda. Seorang guru bisa saja mempunyai dua murid tunanetra yang membutuhkan pendekatan pembelajaran yang sangat berbeda karena keragaman itu normal baik diantara orang-orang yang tanpa dan yang memiliki kecacatan.

Pendidikan bagi anak-anak yang kurang beruntung (cacat) sangat penting dalam upaya mencapai kesejahteraan sosial. Meskipun di Indonesia pendidikan merupakan suatu kewajiban bagi semua anak berusia 7-15 tahun, tanpa kecuali, namun anak-anak yang kurang beruntung dan yang memiliki kebutuhan khusus secara tidak resmi mendapat pengecualian.

Dalam Undang Undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 1 dan Undang-Undang Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bab III ayat 5 dinyatakan bahwa setiap warganegara mempunyai kesempatan yang sama memperoleh pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa anak berkelainan berhak pula memperoleh kesempatan yang sama dengan anak lainnya (anak normal) dalam pendidikan.
Mainstream, Integrasi & Inklusi

Mainstreaming, integrasi, dan inklusi merupakan penjabaran situasi dimana anak berkelainan / dengan kecacatan diperbolehkan belajar bersama dengan teman sebayanya tanpa kecacatan dengan anggapan mereka dapat menyesuaikan kepada sistem mainstream dan peraturannya (mainstreaming/integrasi). Hanya inklusi mencerminkan hak asasi manusia dan isu keadilan sosial dari pendidikan eksklusif mungkin akibat kebijakan dan praktek yang kaku dalam sistem pendidikan mainstream.

Mainstream adalah sistem pendidikan yang menempatkan anak-anak cacat di sekolah-sekolah umum, hanya jika mereka mengikuti kurikulum akademis yang berlaku, dan guru juga tidak harus melakukan adaptasi kurikulum. Mainstream kebanyakan diselenggarakan untuk anak yang sakit yang tidak berdampak pada kemampuan kognitif, seperti epilepsi, asma dan anak-anak dengan kecacatan (dengan fasilitas peralatan, seperti alat bantu dengar dan buku-buku Braille) dan juga mereka yang memiliki tunadaksa.

Integrasi berarti menempatkan siswa yang berkelainan dalam kelas dengan teman-teman sebaya mereka yang tidak memiliki kecacatan. Sering terjadi di sekolah integrasi dimana anak-anak hanya mengikuti pelajaran-pelajaran yang dapat mereka ikuti dari gurunya, dan untuk kebanyakan mata pelajaran akademis, anak-anak ini menerima pelajaran pengganti di kelas berbeda, terpisah dari teman mereka. Penempatan terintegrasi tidak sama dengan integrasi pengajaran dan integrasi sosial, karena ini sangat tergantung pada dukungan yang diberikan sekolah (dan dalam komunitas yang lebih luas).

Inklusi adalah sebuah filosofi pendidikan dan sosial. Mereka yang percaya inklusi meyakini bahwa semua orang adalah bagian yang berharga dalam kebersamaan masyarakat, apapun perbedaan mereka. Dalam pendidikan ini berarti bahwa semua anak, terlepas dari kemampuan maupun ketidak mampuan mereka, latar belakang sosial-ekonomi, suku, latar belakang budaya atau bahasa, agama atau jender, menyatu dalam komunitas sekolah yang sama.

Pendidikan inklusi merupakan perkembangan terkini dari model pendidikan bagi anak yang memiliki kelainan, seperti tuna netra, tuna daksa, tuna grahita, tuna rungu, maupun tuna laras. Secara formal kemudian ditegaskan dalam pernyataan Salamanca pada Konferensi Dunia tentang Pendidikan Berkelainan bulan Juni 1994 bahwa prinsip mendasar dari pendidikan inklusi adalah (selama memungkinkan) semua anak seyogyanya belajar bersama-sama tanpa memandang kesulitan ataupun perbedaan yang mungkin ada pada mereka.

Sekolah inklusi dimulai dengan filosofi bahwa semua anak dapat belajar dan tergabung dalam sekolah dan kehidupan komunitas umum. Keanekaragaman antar anak dihargai, dan diyakini bahwa keanekaragaman menguatkan kelas dan menawarkan semua kesempatan yang lebih besar untuk pembelajaran anak.

Mereka yang percaya inklusi meyakini bahwa semua orang adalah bagian yang berharga dalam kebersamaan masyarakat, apapun perbedaan mereka. Dalam pendidikan ini berarti bahwa semua anak, terlepas dari kemampuan maupun ketidak mampuan mereka, latar belakang sosial-ekonomi, suku, latar belakang budaya atau bahasa, agama atau jender, menyatu dalam komunitas sekolah yang sama.

Lawan kata inklusi adalah eksklusi yang berarti penolakan, keterbatasan dan ketidakberdayaan dan sering mengarah kepada frustasi dan kebencian. Inklusi dan pendidikan inklusif tidak mempermasalahkan apakah anak dapat mengkuti program pendidikan, namun melihat para guru dan sekolah agar dapat mengadaptasi program pendidikan bagi kebutuhan individu.

Inklusi Sebagai Model Pendidikan Khusus

Model pendidikan khusus tertua adalah Model Segregasi yang menempatkan anak berkelainan di sekolah-sekolah khusus, terpisah dari teman sebayanya. Di Indonesia pendidikan khusus ini dinamakan Sekolah Luar Biasa (SLB). Sekolah-sekolah ini memiliki kurikulum, metode mengajar, sarana pembelajaran, sistem evaluasi, dan guru khusus. Dari segi pengelolaan, model segregasi memang menguntungkan, karena mudah bagi guru dan administrator. Namun demikian, dari sudut pandang peserta didik, model segregasi merugikan. Disebutkan oleh Reynolds dan Birch (1988), antara lain bahwa model segregatif tidak menjamin kesempatan anak berkelainan mengembangkan potensi secara optimal, karena kurikulum dirancang berbeda dengan kurikulum sekolah biasa. Kecuali itu, secara filosofis model segregasi tidak logis, karena menyiapkan peserta didik untuk kelak dapat berintegrasi dengan masyarakat normal, tetapi mereka dipisahkan dengan masyarakat normal.

Model yang muncul pada pertengahan abad XX adalah Model Mainstreaming. Belajar dari berbagai kelemahan model segregatif, model mainstreaming memungkinkan berbagai alternatif penempatan pendidikan bagi anak berkelainan. Alternatif yang tersedia mulai dari yang sangat bebas (kelas biasa penuh) sampai yang paling berbatas (sekolah khusus sepanjang hari). Oleh karena itu, model ini juga dikenal dengan model yang paling tidak berbatas (the least restrictive environment), artinya seorang anak berkelainan harus ditempatkan pada lingkungan yang paling tidak berbatas menurut potensi dan jenis / tingkat kelainannya. Secara hirarkis, Deno (1970) mengemukakan alternatif sebagai berikut:

1. Kelas biasa penuh

2. Kelas biasa dengan tambahan bimbingan di dalam,

3. Kelas biasa dengan tambahan bimbingan di luar kelas,

4. Kelas khusus dengan kesempatan bergabung di kelas biasa,

5. Kelas khusus penuh,

6. Sekolah khusus, dan

7. Sekolah khusus berasrama.

Di Amerika Serikat, diperkirakan hanya sekitar 0,5% anak berkelainan yang bersekolah di sekolah khusus, lainnya berada di sekolah biasa (Ashman dan Elkins,1994). Sedangkan di Inggris, pada tahun 1980-1990-an saja, peserta didik di sekolah khusus diproyeksikan menurun dari sembilan juta menjadi sekitar dua juta orang, karena kembali ke sekolah biasa (Warnock,1978), dan ternyata populasi peserta didik di sekolah khusus kurang dari 3% dari jumlah anak berkelainan (Fish,1985).

Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.

Selanjutnya, Staub dan Peck (1995) menyatakan bahwa pendidikan inklusi adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Hal ini menunjukkan bahwa kelas reguler merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkelainan, apapun jenis kelainannya dan bagaimanapun gradasinya. Sementara itu, Sapon-Shevin (O’Neil, 1995) menyatakan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Oleh karena itu, ditekankan adanya perombakan sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, sehingga sumber belajar menjadi memadai dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya

Melalui pendidikan inklusi, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya (Freiberg, 1995). Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas.

Penelitian tentang inklusi telah banyak dilakukan di negara-negara barat sejak 1980-an, namun penelitian yang berskala besar dipelopori oleh the National Academy of Sciences di Amerika Serikat. Hasilnya menunjukkan bahwa klasifikasi dan penempatan anak berkelainan di sekolah, kelas atau tempat khusus tidak efektif dan diskriminatif. Hasil analisis yang dilakukan oleh Carlberg dan Kavale (1980) terhadap 50 buah penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusi berdampak positif, baik terhadap perkembangan akademik maupun sosial anak berkelainan dan teman sebayanya.

Penyelenggaraan pendidikan inklusif di Indonesia sampai saat ini memang masih mengundang kontroversi (Sunardi, 1997). Namun praktek sekolah inklusif memiliki berbagai manfaat. Misalnya adanya sikap positif bagi siswa berkelainan yang berkembang dari komunikasi dan interaksi dari pertemanan dan kerja sebaya. Siswa belajar untuk sensitif, memahami, menghargai, dan menumbuhkan rasa nyaman dengan perbedaan individual. Selain itu, anak berkelainan belajar keterampilan sosial dan menjadi siap untuk tinggal di masyarakat karena mereka dimasukkan dalam sekolah umum. Dan dengan sekolah inklusi, anak terhindar dari dampak negatif dari sekolah segregasi, antara lain kecenderungan pendidikannya yang kurang berguna untuk kehidupan nyata, label “cacat” yang memberi stigma pada anak dari sekolah segregasi membuat anak merasa inferior, serta kecilnya kemungkinan untuk saling bekerjasama, dan menghargai perbedaan.

Manfaat sekolah inklusi bukan hanya dirasakan oleh si anak, namun berdampak pula bagi masyarakat. Dampak yang paling esensial adalah sekolah inklusi mengajarkan nilai sosial berupa kesetaraan. Berdasarkan pengalaman dari sekolah segregasi, anak berkelainan disorot sebagai ancaman bagi masyarakat, maka dari itu harus dipisahkan, dan dikontrol oleh sekolah, bukan dibantu.

Selain belum banyak bukti empiris yang mendukung asumsi bahwa layanan pendidikan khusus yang diberikan di kelas segregasi menunjukkan hasil yang lebih positif, biaya penyelenggaraan sekolah segregasi relatif lebih mahal dari pada sekolah umum. Lagipula, banyak anak berkelainan yang tidak mampu memperoleh pendidikan karena tidak tersedia sekolah khusus yang dekat, sehingga menjadikan pendidikan inklusi sebagai jawaban kontemporer bagi anak-anak berkelainan dan berkebutuhan khusus.
Meneropong Wajah Sekolah Inklusi

Banyak yang belum tahu dan belum mengerti seperti apakah sekolah inklusi itu. Bahkan istilah ”inklusi” itu sendiri terdengar begitu asing bagi para masyarakat awam. Atau mungkin hanya para orangtua yang menyekolahkan anaknya di sekolah inklusi yang mengetahui sistem pendidikan baru ini. Walaupun demikian masyarakat yang tahu akan hal ini pun belum tentu mengerti dan mengetahui persepsi awal yang sebenarnya.

Menurut Idayu, Koordinator Sekolah Inklusi di Kota Malang, Sekolah inklusi adalah sekolah yang menerapkan pendidikan inklusi yaitu pendidikan yang memungkinkan semua anak berkumpul dengan yang lainnya, dengan setting pembelajaran ramah anak.

Istilah sekolah inklusi kini telah memperolah popularitas, khususnya dalam literatur Inggris dan Amerika . Perubahan terminologi ini dapat dipandang sebagai kritik terhadap kecenderungan dalam kebijakan integrasi pendidikan. Kritik tersebut terfokus pada apa yang dianggap oleh sebagian orang sebagai setengah hati, ketika sekolah reguler lokal dibuka hanya untuk sebagian kelompok siswa yang berkebutuhan khusus saja atau ketika kelas khusus atau “sekolah khusus” dirancang sebagai unit khusus dalam sekolah reguler. Istilah UNESCO untuk sekolah inklusi ini yaitu Lingkungan yang Inklusi dan Ramah terhadap Pembelajaran (LIRP) sedangkan istilah dari UNICEF yaitu Sekolah Ramah Anak (SRA).

Beberapa ide utama dari prinsip sekolah inklusif dapat dijelaskan sebagai berikut,:

* Bahwa setiap anak merupakan bagian integral dari komunitas lokalnya dan kelas atau kelompok reguler.
* Bahwa kegiatan sekolah diatur dengan sejumlah besar tugas belajar yang kooperatif, individualisasi pendidikan dan fleksibilitas dalam pilihan materinya.
* Bahwa guru bekerjasama dan memiliki pengetahuan tentang strategi pembelajaran dan kebutuhan pengajaran umum, khusus dan individual, dan memiliki pengetahuan tentang cara menghargai pluralitas perbedaan individual dalam mengatur aktivitas kelas.

Sekolah inklusi bukanlah sekedar sekolah yang menerapkan konsep penyetaraan terhadap semua manusia dalam memperoleh pendidikan, tapi juga membutuhkan settinggan ramah anak didalamnya. Setting ramah anak ini sangat membantu dan mendorong kemajuan perkembangan penerapan pendidikan inklusi di sekolah.

Dimana para ABK sangat membutuhkan dukungan dan motivasi yang mampu mendorong mereka untuk berinteraksi dengan lingkungannya, maka komponen utama yang paling mereka butuhkan di sekolahnya adalah sebuah keramahan, yang menerjamahkan pada mereka suatu penunjukkan kondisi penerimaan terhadap diri mereka.

Ada lima dimensi sekolah ramah anak yang diungkapkan Delegasi Cina pada Lokakarya Asia Selatan tentang Pendidikan Inklusi dan Sekolah Ramah Anak di Delhi bulan Nonember 2006 kemarin, yaitu: (1) Secara proaktif inklusi – pencarian anak; (2) Sehat, aman, dan protektif; (3) Partisipasi masyarakat; (4) Efektif dan Terpusat pada Anak; (5) Responsif Jender. Kelima dimensi ini digunakan untuk memonitori implementasi rintisan sekolah ramah anak.
Sekolah Inklusi Siap Tampung ABK

Idayu Astuti, Koordinator Sekolah Inklusi di Kota Malang menuturkan ”Seharusnya semua orang (semua siswa) boleh bersekolah di sekolah ini baik yang normal maupun termasuk siswa ABK. Namun disayangkan masyarakat belum siap dengan diadakannya sekolah inklusi.” Jadi Dinas Pendidikan Kota Malang (Dindik) memutuskan bagi siswa yang ABK, hanya yang sudah siap saja seperti anak yang terkena autis ringan dan tunadaksa, serta ditetapkan pula bahwa dalam satu kelas maksimal terdapat tiga siswa ABK dan sekolah yang mempunyai status sekolah inklusi disarankan tidak menerima siswa ABK pindahan, lanjutnya.

Wanita Pendiri Yayasan Idayu ini menjelaskan bahwa tiap sekolah ditakutkan mengalami suatu hal yang dapat mengganggu proses belajar mengajar di sekolah tersebut jika mereka dibolehkan menerima ABK pindahan. Karena siswa ABK yang sejak awal tidak di tangani oleh pihak sekolah akan cenderung memiliki tingkat resiko yang lebih tinggi.

Hal ini pun disetujui oleh Mutini Kepala Sekolah SDN Percobaan 1 Malang, yang juga beranggapan bahwa akan terjadi ketidakefektifan belajar bagi siswa ABK jika dalam satu kelas terdapat banyak siswa ABK.

”Minat masyarakat yang ingin menyekolahkan calon siswa ABK sangat tinggi. Namun kami membatasi calon siswa yang akan bersekolah di SDN ini. Kalau terlalu banyak siswa ABK nanti malah mengganggu siswa yang lain” ungkap wanita yang dulu sempat menjadi Ketua FKSI (Forum Komunikasi Sekolah Inklusi) itu.

Ia juga menanggapi bahwa selain timbulnya ketidakefektifan dalam proses belajar mengajar dengan adanya siswa ABK pindahan, yang kedua adalah faktor kuantitas siswa ABK itu sendiri.

”Ya sekolah ini tidak menerima siswa pindahan. Kami menerima siswa ABK mulai dari kelas 1. Karena jika bukan binaan sekolah ini sejak awal, nanti malah merepotkan” ujarnya. Masalahnya sekolah ini juga ingin nilai itu tetap selalu bagus walaupun ada anak-anak ABK, makanya rekruitnya juga baru. Kalau ndak ada kebijakan seperti itu banyak orang yang ingin menyekolahkan calon siswa ABK nya kesini, lanjutnya.

Kenyataan ini menunjukkan pada publik bahwa pendidikan inklusi yang kini berjalan belum terealisasi secara maksimal. Tidaklah mengherankan jika paradigma baru ini belum mampu diterima masyarakat sepenuhnya. Maka itu seperti yang telah tertulis, partisipasi masyarakat merupakan komponen yang sangat penting bagi keberhasilan program baru ini. Agaknya pemerintah harus lebih gencar dalam mengupayakan realisasi pendidikan inklusi ini, salah satunya melalui pemberdayaan partisipasi masyarakat dalam pendidikan inklusi.
Mengapa Sekolah Inklusi

Pendidikan sangat dibutuhkan bagi anak-anak untuk mencapai kesejahteraan sosialnya. Tak terkecuali anak-anak yang kurang beruntung baik dalam segi fisik maupun mental. Namun kenyataan di lapangan, anak-anak yang kurang beruntung dan berkebutuhan khusus menjadi anak yang dapat dikatakan mendapat pengecualian.

Rencana pendidikan nasional, pendidikan untuk belum semua terpenuhi. Sebanyak 49.647 anak berkebutuhan khusus dari total sekitar satu juta anak berkebutuhan khusus yang dapat mengenyam pendidikan.

Eksklusivitas dalam pendidikan menutup kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus dalam memperoleh pendidikan. Sikap eksklusivitas semakin membuat anak yang kurang beruntung dan berkebutuhan khusus semakin terpinggirkan.

Tujuan dari dibentuknya sekolah inklusi adalah untuk menekan dampak yang ditimbulkan oleh sikap eksklusif. Sekolah inklusi juga memberikan kesempatan bagi anak berkebutuhan khusus dan kurang berutung dapat mengenyam pendidikan.

Partisipasi masyarakat dan adanya kemandirian menetukan berjalannya kebijakan sekolah inklusi ini. Karena dalam sekolah inklusi ini dibutuhkan kerjasama antara masyarakat dengan pengajar di kelas untuk menciptakan dan menjaga komunitas kelas yang hangat, menerima keanekaragaman, dan menghargai perbedaan.

Selain itu dalam sekolah inklusi, guru-guru diharuskan untuk mengajar secara interaktif. Hal ini nantinya dapat menciptakan komunikasi antar guru dan siswa, sehingga dapat timbul kedekatan. Dengan adanya kedekatan tersebut akan menghilangkan adanya isolasi profesi. Dalam sekolah inklusi, makna orang tua juga berperan dalam menentukan perencanaan baik dari segi perencanaan kurikulum di sekolah maupun bantuan belajar di rumah.

R13

Penerapan Sekolah Inklusi Layaknya penerimaan siswa-siswa reguler biasa, para siswa ABK pun untuk dapat diterima oleh sekolah inklusi perlu melewati ujian atau test terlebih dahulu. Di Malang khususnya test dilakukan di sekolah masing-masing siswa ABK yang ingin di masuki, namun perkembangan terbaru yang ada kini agar test yang dilakukan lebih efisien dan efektif maka ditentukan pusat sumber untuk melakukan tes siswa ABK yang nantinya akan ditempatkan di salah satu sekolah inklusi yaitu di Sekolah Bakti Luhur.

Bakti Luhur merupakan sekolah luar biasa (SLB) yang terbesar se-Asia Tenggara. ”Kita sudah melakukan kerjasama dengan pihak Bakti luhur. Pak Sofyan sudah menandatangi MoU, maka itu Bakti Luhur kini menjadi pusat sumber test ABK.” ujar Idayu, ketua kordinasi sekolah inklusi di Malang, saat ditemui di Sekolah Bakti Luhur. Sistem tes yang berpusat seperti ini dirasa lebih memudahkan dalam pengkoordinasian seluruh sekolah inklusi di Malang ini.

Dengan adanya pusat sumber ini, maka nantinya pelatihan-pelatihan yang akan diberikan kepada GPK (Guru Pembimbing Khusus) akan diadakan disini (red. Bakti Luhur). Pelatihan ini dilakukan dengan mengirim para GPK ke Bakti Luhur secara periodik. Pelatihan yang sering dilakukan yaitu terutama pelatihan untuk menangani anak-anak autis, karena para GPK sering terkendala dengan ABK yang mengalami autis.

Penerapan sistem pembelajaran yang dilakukan pada sekolah inklusi tidak memiliki suatu sistem khusus, proses pembelajaran berjalan layaknya sekolah reguler biasa. Hanya saja lingkungan yang dibangun lebih pada konsep lingkungan yang ramah anak, hal ini dikarenakan agar ABK merasa lebih nyaman dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungannya dengan baik.
Tantangan Sekolah Inklusi

Tidak seperti layaknya SLB yang secara keseluruhan memang dikhususkan untuk menangani siswa ABK, tentunya banyak kesulitan yang terjadi dalam menerapkan sekolah inklusi ini. Kesulitan yang dihadapi terutama dalam penanganan ABK itu sendiri, dimana ABK yang harus ditangani bervariasi jenis kelainannya. ABK yang selama ini dianggap paling sulit diatasi yaitu ABK yang mengidap autis, karena biasanya prilaku dari sang anak bersifat mengganggu. Dalam hal ini, GPK lah yang paling merasa tertantang untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Selain itu, dari segi ketenagaan sekolah inklusi yang ada saat ini kebanyakan masih kurang memadai. Hal ini dapat terlihat dari beberapa sekolah yang masih belum memiliki ruang BK (bimbingan konseling), tidak adanya alat bantu peraga bagi ABK khusus yang memerlukannya, dan sedikitnya GPK yang harus menangani banyak ABK dalam suatu sekolah inklusi. Namun, sejauh ini selalu diusahakan untuk terus memperbaiki sistem fasilitas yang ada, sehingga dalam proses penerapan pendidikan inklusi menjadi lebih baik. Hal ini diakui oleh Idayu, ”Dindik selalu mengusahakan ada APBD untuk sekolah inklusi, dan ini nantinya untuk pendanaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan sekolah inklusi”.

Yang paling menantang sebenarnya adalah mensosialisasikan konsep daripada sekolah inklusi ini kepada masyarakat. Beberapa sekolah inklusi serentak menjawab hal yang sama ketika ditanya mengenai kendala yang dialami ”Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang sekolah inklusi ini sehingga banyak orang tua siswa yang masih menentang.” Kendala ini terjadi mungkin karena kurangnya tindak lanjut dari tiap-tiap sekolah inklusi, sehingga kurang tersosialisasikan juga konsep pendidikan inklusi ini.

Penyelenggaraan Inklusi, Perlu Kesiapan Sekolah

Kemunculan sekolah inklusi masih mengalami banyak kendala dalam peneraannya. Jeanne Leonardo, salah satu psikolog di Kota Malang, memaparkan beberapa perihal menyangkut sekolah inklusi agar berjalan dengan lebih baik.

Siapakah yang berhak bersekolah di sekolah inklusi?

UNESCO menyatakan bahwa sekolah inklusi ini diperuntukkan bagi semua anak usia sekolah yang tidak memiliki kesempatan sekolah. Contohnya yaitu anak jalanan, anak autis, dll yang tergolong dalam kategori ABK.

ABK yang seperti apakah yang mampu masuk sekolah inklusi?

Syarat anak ABK yaitu anak yang kemampuannya ada di tingkat D (IQ 50-70). Kalau IQ 80 sudah masuk pada tingkat anak normal.

Bagaimanakah agar sekolah inklusi ini mampu berjalan dengan baik?

Ya harus ada kesiapan dari pihak yang normal

Bagaimana pandangan anda tentang sekolah inklusi ( dari segi psikolog)?

Kalau menurut saya inklusi itu ada potitifnya dan ada negatifnya. Positifnya anak-anak yang berekonomi rendah dapat tetap sekolah dan segi negatifnya yaitu persepsi yang salah dari masyarakat.

Efektifkah adanya sekolah inklusi ini?

Untuk efektifitasnya, sekolah inklusi ini sangat efektif sekali untuk dapat merangkul mereka (red. ABK) semua.

Apa saja yang seharusnya ada di sekolah inklusi ini?

Sarana sekolah dan kesiapan mental harus berjalan bersamaan. Sarana teknis yang ada ya tergantung dari muridnya dan tergantung kebutuhan pihak sekolah. Fasilitas secara umumnya yaitu semua hal-hal yang dirancang untuk anak ABK, jadi kembali pada ABKnya. Pada dasarnya semua anak ABK dapat masuk sekolah inklusi tidak hanya yang nilainya D, asalkan intelektual mencukupi untuk masuk sekolah reguler. Dan untuk lingkungannya, sekolah inklusi ini lingkungannya harus ramah terhadap mereka.

Apakah basic GPK harus dari sajana psikologi?

Oh, gak harus. S1 Psikologi itu hanya alternatif, lebih gampang jika lulusannya dari sarjana IKIP Ilmu Kependidikan.

Apa saja yang harus dimikili GPK?

Sebenarnya siapa saja bisa jadi GPK, orang luar juga bisa jadi GPK tapi harus belajar dari awal. Syarat umum untuk GPK itu sendiri adalah harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, sayang anak, dan komitment yang kuat.

Lalu bagaimana dengan para psikolog? Bukankah sekolah inklusi ini membutuhkan psikolog?

Iya tentunya seperti itu. Untuk psikolog itu sendiri harusnya terjub langsung ke sekolah-sekolahnya dan melihat perkembangan sekolah inklusi tersebut.

Apa harapan anda sebagai psikolog terhadap sekolah inklusi ini?

Harapan saya, agar sekolah inklusi ini dapat berjalan dengan lancar. Kemudian pemerintah juga lebih memperhatikan dan mempersiapkan segalanya baik masyarakat dan intern sekolah. Selain itu, adanya sosialisasi dan penyuluhan gratis juga akan sangat membentu perkembangan sekolah inklusi ini menjadi lebih baik. Untuk yang lebih utamanya harus ada kesiapan dari pihak internalnya.
Menguak Kontroversi Sekolah Inklusi

Paradigma baru yang terjadi dalam pendidikan melalui hadirnya konsep baru pendidikan khusus yaitu berupa sekolah inklusi, menghasilkan berbagai issue yang terdengar dalam masyarakat. Ini merupakan kontroversi awal bagi hadirnya new product di dunia pendidikan yang disebut “Education For All (EFA)”. Sebenarnya ini bukanlah suatu produk baru lagi, namun para ilmuan pendidikan baru menyadari bahwa pendidikan yang selama ini ada sebenarnya adalah hak semua manusia yang pantas untuk mereka tuntut, entah itu untuk manusia normal maupun manusia yang berkebutuhan khusus.

EFA merupakan suatu kesadaran publik yang membawa banyak pembenahan pada pendidikan yang selama ini telah ada. Perkembangan pendidikan luar biasa (PLB) yang terbukti melalui hadirnya pendidikan inklusi adalah suatu realisasi dari program EFA.

Bagi sebagian besar masyarakat pendidikan inklusi sangatlah baik untuk diterapkan di semua sekolah. Secara teoritis pendidikan inklusi ini memanglah sebuah pendidikan untuk semua orang. Tetapi jika dilihat dalam realisasinya, di luar negeri pendidikan inklusi lebih cenderung mensolusikan bagi permasalahan marginalisasi dalam hal minoritas etnis sedangkan di Indonesia khususnya Kota Malang lebih cenderung pada permasalahan marginalisasi bagi anak berkebutuhan khusus (ABK).

Sejauh ini, di Kota Malang tidak terdapat perbedaan pendapat yang begitu berarti, semua mampu menyamakan persepsi tentang pendidikan inklusi yang perlahan-lahan ini mulai terealisasikan. Namun, bagaimanakah kondisi pendidikan inklusi di Ibukota kita, yang berperan sebagai tempat pijakan awal hadirnya pendidikan inklusi di Indonesia. Ternyata tidak sama adem ayemnya dengan kondisi realisasi yang terjadi di Kota Malang. Mungkin hal ini disebabkan oleh perkembangan realisasi pendidikan inklusi di Ibukota (Jakarta) yang telah jauh lebih maju dibandingkan ”Tahap Melangkah” yang sedang dijalani oleh Kota Malang.

Sebuah kontroversi terjadi ketika dalam persyaratan penerimaan murid baru sekolah menengah atas (SMA) tahun 2005 dicantumkan persyaratan bahwa calon siswa tidak boleh memiliki cacat fisik yang mengganggu kegiatan belajar mengajar.

”Itu sama saja dengan melegalkan stigmatisasi terhadap orang cacat yang secara kultural telah lama diterapkan di sekolah ketika menerima siswa baru,” ucap Presiden Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) Siswadi. Menurut Siswadi, kebijakan itu sangat bertentangan dengan kebijakan sekolah inklusi (sekolah umum yang memberi peluang handicap yang memiliki nilai seleksi nasional tinggi) yang dibangun pemerintah.

Hal itu, ujarnya, juga bertentangan dengan UU No. 4 tahun 1997 tentang penyandang cacat dimana penyandang cacat diberi kesempatan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk pendidikan.

Padahal sekolah khusus penyandang cacat sendiri, ujarnya, sangat tidak mencukupi jumlahnya. Sekolah Luar Biasa (SLB) hanya ada 1350 sekolah di seluruh Indonesia. Jika rata-rata hanya 1 SLB untuk 4 kecamatan. ”Mobilitas mereka hampir tidak mungkin. Antar desa saja sulit,” sesalnya. Ia sadar di Indonesia banyak sekolah yang tidak memiliki fasilitas khusus bagi orang cacat memperoleh pendidikan yang dapat memudahkan kegiatan belajar mengajar. ”Justru itu yang menimbulkan diskriminasi,” katanya.

Padahal target Asia Pasific dimana Indonesia turut menandatanganinya di tahun 2002, sekurangnya 75 % anak cacat usia sekolah bisa memperoleh pendidikan. Saat ini, ujarnya, baru 5 % dari 1,5 juta anak usia sekolah yang memperoleh pendidikan. ”Yang sekarang sekolah baru 63 ribu di seluruh Indonesia,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Dikmenti) DKI, Margani M. Mustar, mengakui dalam penerimaan siswa baru tahun 2005 mensyaratkan siswa baru tidak memiliki cacat fisik yang dapat mengganggu kegiatan belajar mengajar. ”Juga bagi yang memiliki kelainan yang sulit dideskripsi,” ujarnya.

Ia membantah persyaratan cacat fisik ini bersifat diskriminatif. ”itu untuk kepentingan belajar mengajar juga,” jelasnya. Ia menuturkan, untuk sekolah menengah khusus seperti tata boga, tata busana dan teknik memang memerlukan indera yang baik. ”Kalau buta warna kan mesti pakai huruf braille. Dan tidak semua sekolah punya huruf braille,” ucapnya.

DKI Jakarta, ucapnya, juga mengembangkan sekolah inklusi. ”Di Jakarta ada beberapa, karena sekolah inklusi kan butuh peralatan lebih dan penanganan khusus,” ujarnya. Penyandang cacat, ujarnya, bisa datang ke Dikmenti untuk mendapat bantuan pendidikan.

Menanggapi persoalan ini Idayu sebagai orang yang telah terjun langsung menangani sekolah inklusi di Kota Malang mengatakan bahwa ini semua terjadi dikarenakan masih banyak masyarakat yang kurang meneriman siswa ABK.

Ternyata di balik kesempurnaan pendidikan inklusi yang di elu-elukan para pakar pendidikan, memiliki sebuah keterbatasan, yang dimana siswa ABK (Anak Berkebutuhan Khusus) tetaplah tidak mampu melangkah sejajar dengan siswa yang normal. Akankah inklusi mampu terus merambah hingga jejang perguruan tinggi?

Kontroversi ini menunjukkan bahwa kesenjangan yang terjadi antara siswa ABK dan siswa normal hanya sebatas meminimalisir, tidak dapat dihilangkan. Inklusi agaknya bukan solusi terbaik bagi permasalahan marginalisasi yang terjadi di dunia pendidikan. Mungkinkah akan ada lagi pendidikan-pendidikan lain yang menawarkan perubahan bagi permasalahan maginalisasi ini.
Tidak Semudah Guru Reguler

Sebelumnya Santi adalah seorang guru di salah satu SLB di Kota Malang sekitar 1,5 tahun. Wanita yang bernama lengkap Santi Dwi Puspitaningrum mengakui ketika ada program sekolah inklusi, dirinya langsung tertarik dan ingin menjadi GPK. Wanita asli malang ini juga menuturkan bahwa syarat untuk menjadi GPK itu adalah harus tahu apa yang akan kita dihadapi karena nantinya kita akan menghadapi anak-anak ABK dan GPK itu minimal harus bergelar Spd PLB dan sarjana psikologi.

Untuk menjadi GPK ternyata tidaklah semudah yang dikira layaknya guru-guru reguler yang ada. Santi menuturkan beberapa kesulitan yang ia rasakan selama menjadi GPK di SD Pandan Wangi 3 yaitu: Pertama, pengalaman yang ia miliki tidak mencukupi untuk menyelesaikan berbagai masalah yang timbul di sekolah; Kedua, ada sesuatu yang baru yang harus dihadapi. Santi mengakui karena pengalamannya yang sangat terbatas tersebut sehingga menyulitkannya menghadapi sesuatu yang baru yang ia temui dalam penerapan sekolah inklusi ini; Ketiga, tidak adanya alat peraga. Tidak hanya santi, mungkin seluruh GPK akan merasa kesulitan tanpa adanya alat peraga yang dibutuhkan untuk menunjang proses belajar ABK.

Berbica mengenai efektifitas sekolah inklusi, ia mulai mengeluarkan suara, ”Efektifitasnya ini diukur darimana sudut pandang mana dulu, kalau dari aspek kelas reguler sekolah inklusi ini kurang efektif karena ABK terutama yang memiliki kelainan autis biasanya suka menganggu”. Ia juga menambahkan bahwa sejauh ini sosialisasi sekolah inklusi ini bagus dan para wali murid juga telah menyetujuinnya, soal efektifitas memang perlu proses untuk memaksimalkan sekolah inklusi.

1. Nama-nama responden atau nama di dalam berita diperhatikan lagi (misal, idayu menyebut soyfan. Nama sofyan merujuk ke kadin pendidikan bernama shofwan)
2. kalimat langsung memakai ungkapan baku saja mengingat mereka bukan anak muda. (misal, gak seharusnya tidak)
3. berita tidak memakai poin-poin dan biasakan gunakan bahasa jurnalistik bukan kalimat seperti teori kuliah
4. Dinas pendidikan bukan disingkat Dindik, melainkan dindik. Kata Dindik merujuk ke depDindik (pusat). Jika berada di dalam kutipan, lebih baik diganti Dindik.
5. Setiap kalimat harus didasarkan pada responden, bukan terkesan opini penulis. (misal, Mrs X mengungkapkan….. atau ini diungkapkan Mrs X pada DIANNS saat dijumpai di ruang kerjanya atau pernyataan tersebut disampaikan Mrs X dsb )

Uji Asumsi 1 : Uji Normalitas

•Mei 17, 2010 • 1 Komentar

Uji Asumsi 1 : Uji Normalitas

Setelah cukup lama bingung pilih-pilih tema yang mau diangkat perdana, saya akhirnya mencoba memilih satu tema ini : Uji Asumsi Statistik Parametrik. Uji Asumsi yang pertama akan saya bahas adalah Uji Normalitas.

Apa itu ?
Kita mulai dulu dari apa itu uji normalitas. Uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk mengecek apakah data penelitian kita berasal dari populasi yang sebarannya normal. Uji ini perlu dilakukan karena semua perhitungan statistik parametrik memiliki asumsi normalitas sebaran. Formula/rumus yang digunakan untuk melakukan suatu uji (t-test misalnya) dibuat dengan mengasumsikan bahwa data yang akan dianalisis berasal dari populasi yang sebarannya normal. Ya bisa ditebak bahwa data yang normal memiliki kekhasan seperti mean, median dan modusnya memiliki nilai yang sama. Selain itu juga data normal memiliki bentuk kurva yang sama, bell curve. Nah dengan mengasumsikan bahwa data dalam bentuk normal ini, analisis statistik baru bisa dilakukan.

Bagaimana Caranya?
Ada beberapa cara melakukan uji asumsi normalitas ini yaitu menggunakan analisis Chi Square dan Kolmogorov-Smirnov. Bagaimana analisisnya untuk sementara kita serahkan pada program analisis statistik seperti SPSS dulu ya. Tapi pada dasarnya kedua analisis ini dapat diibaratkan seperti ini :

1. pertama komputer memeriksa data kita, kemudian membuat sebuah data virtual yang sudah dibuat normal.

2. kemudian komputer seolah-olah melakukan uji beda antara data yang kita miliki dengan data virtual yang dibuat normal tadi.

3. dari hasil uji beda tersebut, dapat disimpulkan dua hal :
o jika p lebih kecil daripada 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data yang kita miliki berbeda secara signifikan dengan data virtual yang normal tadi. Ini berarti data yang kita miliki sebaran datanya tidak normal.
o jika p lebih besar daripada 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data yang kita miliki tidak berbeda secara signifikan dengan data virtual yang normal. Ini berarti data yang kita miliki sebaran datanya normal juga.
Ukuran inilah yang digunakan untuk menentukan apakah data kita berasal dari populasi yang normal atau tidak.

Bagaimana Jika Tidak Normal?
Tenang…tenang… data yang tidak normal tidak selalu berasal dari penelitian yang buruk. Data ini mungkin saja terjadi karena ada kejadian yang di luar kebiasaan. Atau memang kondisi datanya memang nggak normal. Misal data inteligensi di sekolah anak-anak berbakat (gifted) jelas tidak akan normal, besar kemungkinannya akan juling positif.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?

1. Kita perlu ngecek apakah ketidaknormalannya parah nggak. Memang sih nggak ada patokan pasti tentang keparahan ini. Tapi kita bisa mengira-ira jika misalnya nilai p yang didapatkan sebesar 0,049 maka ketidaknormalannya tidak terlalu parah (nilai tersebut hanya sedikit di bawah 0,05). Jika ketidaknormalannya tidak terlalu parah lalu kenapa? Ada beberapa analisis statistik yang agak kebal dengan kondisi ketidaknormalan ini (disebut memiliki sifat robust), misalnya F-test dan t-test. Jadi kita bisa tetap menggunakan analisis ini jika ketidaknormalannya tidak parah.

2. Kita bisa membuang nilai-nilai yang ekstrem, baik atas atau bawah. Nilai ekstrem ini disebut outliers. Pertama kita perlu membuat grafik, dengan sumbu x sebagai frekuensi dan y sebagai semua nilai yang ada dalam data kita (ini tentunya bisa dikerjakan oleh komputer). Nah dari sini kita akan bisa melihat nilai mana yang sangat jauh dari kelompoknya (tampak sebagai sebuah titik yang nun jauh di sana dan nampak terasing…sendiri…). Nilai inilah yang kemudian perlu dibuang dari data kita, dengan asumsi nilai ini muncul akibat situasi yang tidak biasanya. Misal responden yang mengisi skala kita dengan sembarang yang membuat nilainya jadi sangat tinggi atau sangat rendah.

3. Tindakan ketiga yang bisa kita lakukan adalah dengan mentransform data kita. Ada banyak cara untuk mentransform data kita, misalnya dengan mencari akar kuadrat dari data kita, dll.

4. Bagaimana jika semua usaha di atas tidak membuahkan hasil dan hanya membuahkan penyesalan (wah..wah.. nggak segitunya kali ya?) . Maka langkah terakhir yang bisa kita lakukan adalah dengan menggunakan analisis non-parametrik. Analisis ini disebut juga sebagai analisis yang distribution free. Sayangnya analisis ini seringkali mengubah data kita menjadi data yang lebih rendah tingkatannya. Misal kalo sebelumnya data kita termasuk data interval dengan analisis ini akan diubah menjadi data ordinal.
Well, demikian kiranya paparan atau sharing tentang normalitas. Semoga dalam waktu dekat saya bisa tahu gimana caranya meng-upload gambar ke dalam blog ini dalam posisi yang manis jadi penjelasan saya bisa jadi lebih visualized gitu deh. Semoga juga saya juga bisa segera mengubah tampilan SPSS menjadi JPG, jadi kita bisa belajar baca hasil analisis di blog ini, OK? Semoga….. (kayak lagunya katon nih)

Sekte-sekte agama Majusi..

•Mei 17, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bangsa Persia mempercayai berbagai B kekuatan yang melebihi kekuatan manusia.

Mereka mempercayai kekuatan alam seperti Matahari, Bumi, Bulan, dan Angin. Selain itu, mereka juga menyembah air, api, benda langit, dan hewan. Semua itu mereka anggap sebagai media perantara dari Zat Sumber Kekuatan (Tuhan).

Namun demikian, sebagaimana kepercayaan agama lainnya, agama Majusi juga terpecah menjadi beberapa sekter, sesuai dengan ritual yang dilakukan oleh pimpinan ajaran. Ritual mereka dipimpin oleh seorang pendeta yang bernama Maji, yang berarti Majusi. Kelompok ini menyembah api suci. Kuil penyembahan api kaum Majusi atau Zoroastrianisme ini di antaranya terdapat di Azerbaijan, Iran dan Mumbai, India. Sebagian besar pemeluk agama Majusi ada di Bombay (India). Jumlahnya diperkirakan hingga saat ini mencapai 100 ribu orang.

.::syahruddin e ,]kavrella’s

Ada beberapa sekte-sekte terpenting adalah agama Majusi. Antara lain; sekte Zoroaster yang dikaitkan dengan Zarathustra (583 SM). Para pengikutnya beranggapan bahwa alam wujud memiliki dua dewa, yakni dewa kebaikan (Ahura Mazda) dan dewa keburukan (Ahriman). Kedua dewa ini saling memperebutkan jiwa manusia dan alam beserta isinya. Kekuatan adalah fondasi bagi segala sesuatu dan tidak ada nilai bagi orang-orang yang lemah.
Mereka menganggap yang terbaiklah yang akan bertahan, yakni kebaikan akan mengalahkan kejahatan.

Sekte lainnya adalah sekte Manu. Manu muncul pada abad ke-3 M. ajaran-ajarannya merupakan perpaduan dari agama Nasrani dengan Zoroaster.
Alirannya terdiri atas dasar kepercayaan bahwa alam muncul dari dua asal, yakni cahaya dan kegelapan. Ia cenderung hidup monogami dan tidak suka pernikahan, supaya tidak ada keturunan di antara manusia.
Mereka menganggap, hal itulah yang menyebabkan manusia banyak berbuat kerusakan di muka bumi.
Karena itu, orang yang suka melakukan kerusakan akan mendapat siksa.

Sedangkan sekte lainnya adalah sekter Mazdak.
Sekter ini muncul pada bad kelima Masehi oleh Mazdak. Sekte ini awalnya bertujuan untuk memperbaiki sekte Manu. Karena itu, sekte ini mempersoalkan masalah kegelapan dan cahaya. Menurut sekte ini, perpaduan dari kedua paham (kegelapan dan cahaya) itulah yang melahirkan dunia secara kebetulan. Menurut paham ini, dunia terjadi dengan sendirinya, tanpa ada yang menciptakannya.

Tak jauh berbeda dengan sekte Manu, kelompok ini juga melarang pernikahan. Namun demikian, mereka membolehkan seseorang pemeluknya melakukan hubungan seksual sebagaimana hewan tanpa harus ada pernikahan atau ikatan. Dalam pandangan sekte ini juga, harta tak ada pemiliknya.
Karenanya siapapun yang mempunyai harta, setiap orang boleh menggunakannya, tanpa ada aturan apapun.

Wa Allahu A’lam.

Allah SWT Menyapa.::

•April 25, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

“Lalu, ke mana pun kamu menghadap, maka di situlah `wajah’ Allah.” (QS Al-Baqarah: 115).
Manusia sering kali lupa dan tidak mampu merasakan kehadiran Allah serta tidak bisa melihat tanda-tanda kekuasaan-Nya yang terdapat di seluruh alam semesta.

Allah SWT menyapa manusia melalui media ayat-ayat alam semesta dan ayatayat Alquran. Agar manusia menyadari sapaan Allah, manusia harus memahami fungsi alam semesta sekaligus mampu mengelaborasikannya dengan Alquran.

Ketika membaca Alquran, seharusnya kita mampu memahaminya sesuai dengan fungsi dan tujuan Allah menciptakan alam semesta. Yaitu, untuk kebaikan seluruh manusia.

Secara tegas, Allah sangat sering menyapa manusia dengan sapaan yang penuh makna; `’Ya ayyuhal ladzina aamanu” (wahai orang-orang yang beriman), `’Ya ayyuhan naasu” (wahai manusia), Ya `ibaadi (hai hamba-hambaku), dan lain sebagainya.

Seruan-seruan Allah yang banyak kita temukan di permulaan ayat-ayat itu seharusnya mampu menggugah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Bukankah kita percaya bahwa ayat-ayat Alquran adalah firman Allah, namun mengapa keyakinan itu hanya sebatas pada tataran pikiran dan kemantapan hati?
Kepercayaan atau keimanan dalam pandangan Islam adalah ibarat mesin yang menggerakkan jasad untuk melakukan perbuatan baik dan amal saleh.

Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya `Ulumud Din menyebutkan tiga tingkatan manusia yang membaca ayat-ayat Alquran: Pertama, merasa sedang membacanya di hadapan Allah sehingga khusyuk dan berusaha untuk membacanya dengan benar.

Kedua, merasa bahwa Allah sedang berkata dan menyapa kepadanya sehingga dia akan berusaha untuk memahami ayat-ayat Alquran, lalu melaksanakannya.
Ketiga, merasa bahwa Allah sedang hadir dan berdialog bersamanya sehingga ketika ada ayat perintah ia merasa Allah langsung memerintahkan padanya. Dan ketika ada larangan, dia sadar bahwa Allah sedang hadir melarangnya.

Tingkatan keempat yaitu membaca dengan mengombinasikan dan mengelaborasikan kandungannya ke dalam pembacaan terhadap ayat-ayat alam semesta raya (kauniyyah). Wallahu a`lam

Republika_24042010